Sabtu, 20 April 2013

Mengimani Uluhiyah Allah سبحانه و تعالى -Bagian Ketiga dari Empat Tulisan [3/4]-


[3]. Mengimani Uluhiyah Allah سبحانه و تعالى

Artinya, benar-benar mengimani bahwa Dia-lah ilah yang benar dan satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Al-Ilah artinya "al ma'luh", yakni sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan serta pengagungan.

Allah سبحانه و تعالى berfirman.

"Artinya : Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan melainkan Dia. Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." [Al Baqarah: 163]

"Artinya : Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." [Ali Imran: 18]

Allah سبحانه و تعالى berfirman tentang Lata, Uzza, dan Manat yang disebut sebagai Tuhan, namun tidak diberi hak uluhiyah.

Allah Ta'ala berfirman.

"Artinya : Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya ..." [An Najm : 23]

Setiap sesuatu yang disembah selain Allah, uluhiyahnya adalah batil.

Allah Ta'ala berfirman.

"Artinya : (Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah,
Dia-lah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru
selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." [Al Hajj : 62]

Allah سبحانه و تعالى juga berfirman tentang Nabi Yusuf yang berkata kepada dua temannya di penjara.

"Artinya : Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?
Kamu tidak mkenyembah yang selain Allah, kecuali hanya (menyembah)
nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak
menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu ..." [Yususf : 40]

Oleh karena itu para rasul alaihimussalam berkata kepada kaum-kaumnya:

"Artinya : Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan
selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?"
[Al Mu'minuun : 32]

Orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja mengambil tuhan selain Allah سبحانه و تعالى. Mereka menyembah meminta bantuan dan pertolongan kepada tuhan-tuhan itu dengan menyekutukan Allah.

Pengambilan tuhan-tuhan yang dilakukan orang-orang musyrik ini telah dibatalkan oleh Allah dengan dua bukt i:

[a]. Tuhan-tuhan yang diambil tidak mempunyai keistimewaan uluhiyah sedikitpun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat menarik kemanfaatan, tidak dapat menolak bahaya, tidak memiliki hidup dan mati, tidak memiliki sedikitpun dari langit dan tidak pula ikut memiliki keseluruhannya. Allah سبحانه و تعالى berfirman.

"Artinya : Mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan." [Al Furqan: 3]

"Artinya : Katakanlah: "Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah, melainkan bagi  rang yang telah diijinkan-Nya memperoleh syafaat ..." [Saba': 22-23]

"Artinya : Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala- erhala itu tidak dapat memberi pertolongan." [Al A'raaf : 191-192]

Kalau demikian keadaan tuhan-tuhan itu, maka sungguh sangat tolol dan sangat batil bila menjadikan mereka sebagai ilah dan tempat meminta pertolongan.

[b]. Sebenarnya orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah سبحانه و تعالى adalah satu-satunya Robb, Pencipta, yang di tangan-Nya kekuasaan segala sesuatu. Mereka juga mengakui bahwa hanya Dia-lah yang dapat melindungi dan tidak ada yang dapat melindungi-Nya. Ini mengharuskan pengesaan uluhiyah (penghambaan), seperti mereka mengesakan rububiyah (ketuhanan) Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

"Artinya : Hai manusia, sembahlah Robbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." [Al Baqarah: 21-22]

"Artinya : Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang
menciptakan mereka?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?" [Az-Zukhruf : 87]

"Artinya : Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab, "Allah." Maka katakanlah: "Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?" Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Robb kamu yang sebenarnya. Tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?" [Yunus: 31-32]


[Ditulis ulang dari: Syarhu Ushulil Iman, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Edisi Indonesia: Prinsip-Prinsip Dasar Keimanan. Penerjemah: li Makhtum Assalamy. Penerbit: KSA Foreigners Guidance Center In Gassim Zone,halaman: 26-30]

Mengimani Rububiyah Allah سبحانه و تعالى -Bagian Kedua dari Empat Tulisan [2/4]-


[2]. Mengimani Rububiyah Allah سبحانه و تعالى

Mengimani rububiyah Allah سبحانه و تعالى maksudnya mengimani sepenuhnya bahwa Dia-lah Robb satu-satunya, tiada sekutu dan tiada penolong bagi-Nya.

Robb adalah yang berhak menciptakan, memiliki serta memerintah. Jadi tidak ada Pencipta selain Allah, tidak ada pemilik selain Allah, dan tidak ada perintah selain perintah dari-Nya. Allah سبحانه و تعالى telah berfirman:

"Artinya : ...Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanya hak Allah. Mahasuci  Allah, Robb semesta Allah." [Al A'raaf : 54]

"Artinya : ... Yang (berbuat) demikian itulah Allah Robbmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari." [Faathir : 13]

Tidak ada makhluk yang mengingkari kerububiyahan Allah سبحانه و تعالى, kecuali orang yang congkak sedang ia tidak meyakini kebenaran ucapannya, seperti yang dilakukan Fir'aun ketika berkata kepada kaumnya. "Akulah tuhanmu yang paling tinggi." [An Naazi'at : 24], dan juga ketika berkata, "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku." [Al Qashash : 38]

Allah سبحانه و تعالى berfirman.

"Artinya : Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan mereka padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." [An Naml : 14]

Nabi Musa berkata kepada Fir'aun: "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Robb Yang Memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir'aun, seorang yang akan binasa." [Al Israa': 102]

Oleh karena itu, sebenarnya orang-orang musyrik mengakui rububiyah Allah, meskipun mereka menyekutukan-Nya dalam uluhiyah (penghambaan). Allah سبحانه و تعالى berfirman.

"Artinya : Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?" Mereka akan menjawab, "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak ingat?" Katakanlah: "Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arsy yang besar?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertaqwa?" Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala ssesuatu, sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dililndungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?" [Al Mu'minuun: 84-89]

"Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab, "Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." [Az Zukhruf : 9]

"Artinya : Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan mereka?", niscaya mereka menjawab: "Allah", maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?" [Az-Zukhruf : 87]

Perintah Allah سبحانه و تعالى mencakup perintah alam semesta (kauni) dan perintah syara' (syar'i). Dia adalah pengatur alam, sekaligus sebagai pemutus perkara, sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya. Dia juga pemutus peraturan-peraturan ibadah serta hukum-hukum muamalat sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya. Oleh karena itu barangsiapa menyekutukan Allah dengan seorang pemutus ibadah atau pemutus muamalat, maka dia berarti telah menyekutukan Allah serta tidak mengimani-Nya.


[Disalin dari kitab Syarhu Ushulil Iman, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Edisi Indonesia: Prinsip-Prinsip Dasar Keimanan. Penerjemah: Ali Makhtum Assalamy. Penerbit: KSA Foreigners Guidance Center In  Gassim Zone, halaman: 24-26]

Mengimani Asma Dan Sifat Allah سبحانه و تعالى


[4] Mengimani Asma Dan Sifat Allah سبحانه و تعالى.

Iman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah سبحانه و تعالى yakni menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang sudah ditetapkan Allah untuk diri-Nya dalam kitab suci-Nya atau sunnah rasul-Nya dengan cara yang sesuai dengan kebesaran-Nya tanpa tahrif (penyelewengan), ta'thil (penghapusan), takyif (menanyakan bagaimana?), dan tamsil (menyerupakan).

Allah سبحانه و تعالى berfirman.

"Artinya : Allah mempunyai asmaaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjaklan." [Al A'raaf: 180]

"Artinya : ... Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." [An Nahl : 60]

"Artinya : ... Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."  [Asy Syuura : 11]

Dalam perkara ini ada dua golongan yang tersesat, yaitu:

[1]. Golongan Muaththilah, yaitu mereka yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah atau mengingkari sebagiannya saja. Menurut perkiraan mereka, menetapkan nama-nama dan sifat itu kepada Allah dapat menyebabkan tasybih (penyerupaan), yakni penyerupaan Allah سبحانه و تعالى dengan makhluk-Nya.

Pendapat ini jelas keliru karena:

[a]. Sangkaan itu akan mengakibatkan hal-hal yang bathil atau salah, karena Allah سبحانه و تعالى telah menetapkan untuk diri-Nya nama-nama dan sifat-sifat, serta telah menafikan sesuatu yang serupa dengan-Nya. Andaikata menetapkan nama-nama dan sifat-sifat itu menimbullkan adanya penyerupaan,  berarti ada pertentangan dalam kalam Allah serta sebagian firman-Nya akan menyalahi sebagian yang lain.

[b]. Kecocokan antara dua hal dalam nama atau sifatnya tidak mengharuskan adanya persamaan. Anda melihat ada dua orang yang keduanya manusia, mendengar, melihat, dan berbicara, tetapi tidak harus sama dalam makna-makna kemanusiaannya, pendengarannya, poenglihatannya, dan pembicaraannya. Anda juga melihat beberapa binatang yang punya tangan, kaki, dan mata, tetapi kecocokannya itu tidak mengharuskan tangan, kaki, dan mata mereka sama. Apabila antara makhlluk-makhluk yang cocok dalam nama atau sifatnya saja jelas memiliki perbedaan, maka tentu perbedaan antara Khaliq (Pencipta) dan makhluk (yang diciptakan) akan lebih jelas lagi.

[2]. Golongan Musyabbihah, yaitu golongan yang menetapkan nama-nama dan sifat-sifat, tetapi menyerupakan Allah سبحانه و تعالى dengan makhlulk-Nya. Mereka mengira hal ini sesuai dengan nash-nash Al Qur'an, karena Allah berbicara dengan hamba-Nya dengan sesuatu yang dapat dipahaminya. Anggapan ini jelas keliru ditinjau dari beberapa hal, antara lain:

[a]. Menyerupakan Allah سبحانه و تعالى dengan makhluk-Nya jelas merupakan sesuatu yang bathil, menurut akal maupun syara'. Padahal tidak mungkin nash-nash kitab suci Al Qur'an dan Sunnah rasul menunjukkan pengertian yang bathil

[b]. Allah Ta'ala berbicara dengan hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang dapat dipahami dari segi asal maknanya. Hakikat makna sesuatu yang berhubungan dengan zat dan sifat Allah adalah hal yang hanya diketahui oleh Allah saja.

Apabila Allah menetapkan untuk diri-Nya bahwa Dia Maha Mendengar, maka pendengaran itu sudah maklum dari segi maknanya, yaitu menemukan suara-suara. Tetapi hakikat hal itu dinisbatkan kepada pendengaran Allah tidak maklum, karena hakikat pendengaran jelas berbeda, walau pada makhluk sekalipun. Jadi perbedaan hakikat itu antara Pencipta dan yang diciptakan jelas lebih jauh berbeda.

Apabila Allah سبحانه و تعالى memberitakan tentang diri-Nya bahwa
Dia bersemayam di atas Arasy-Nya, maka bersemayam dari segi asal maknanya sudah maklum, tetapi hakikat bersemayamnya Allah itu tidak
dapat diketahui.

Buah Iman kepada Allah:

[1]. Merealisasikan pengesaan Allah سبحانه و تعالى sehingga tidak menggantungkan harapan kepada selain Allah, tidak takut kepada yang lain, dan tidak menyembah kepada selain-Nya.

[2]. Menyempurnakan kecintaan terhadap Allah, serta mengagungkan-Nya sesuai dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang Maha
Tinggi.

[3]. Merealisasikan ibadah kepada Allah dengan mengerjakan apa yang diperintah serta menjauhi apa yang dilarang-Nya.


[Disalin dari kitab Syarhu Ushulil Iman, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. EdisiIndonesia: Prinsip-Prinsip Dasar Keimanan. Penerjemah: Ali Makhtum Assalamy. Penerbit: KSA Foreigners Guidance Center In Gassim Zone, halaman: 30-32]

Apakah Rezki Dan Jodoh Telah Ditulis Di Lauh Mahfudz


Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin ditanya :  "Apakah rezqi dan jodoh juga telah tertulis di Lauh Mahfudz ?".

Jawaban.
Segala sesuatu sejak awal terciptanya Qalam sampai tiba hari Qiyamat telah tertulis di Lauh Mahfudz, karena sejak permulaan menciptakan Qalam Allah telah berfirman kepadanya : "Tulislah", Dia (Qalam) bertanya : "Wahai Rabb-ku, apa yang harus aku tulis?" Allah berfirman : "Tulislah segala sesuatu yang terjadi". Kemudian dia (Qalam) menulis segala sesuatu yang terjadi sampai hari kiamat. Juga diriwayatkan dari Nabi :

"Artinya : Sesungguhnya janin yang ada dalam kandungan ibunya ketika telah melewati umur empat bulan, maka Allah mengutus Malaikat kepadanya yang meniupkan roh dan menulis rizqi, ajal, amal dan apakah dia celaka atau bahagia".

Rezqi juga telah tertulis dan ditakdirkan beserta sebab-sebabnya, tidak bertambah dan tidak berkurang. Sebagian dari sebab-sebab (rezqi) adalah pekerjaan manusia untuk mencari rezqi, sebagaimana firman Allah :

"Artinya : Dia (Allah) adalah Tuhan yang telah menjadikan bumi tunduk (kepadamu), maka berjalanlah dia atas pundaknya dan makanlah sebagian rezqi-Nya dan kepada-nyalah tempat kembali" [Al-Maidah : 15]

Sebagian dari sebab-sebab rezqi lagi adalah menyambung persaudaraan (sillaturrahim), termasuk berbuat baik kepada kedua orang tua dan menyambung hubungan keluarga, karena Nabi telah bersabda.

"Artinya : Barangsiapa ingin dilapangkan rezqinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung persaudaraan (sillaturrahim).

Sebagian sebab-sebab rezqi lagi adalah bertaqwa kepada Allah, sebagaimana firman Allah.

"Artinya : Barangsiapa bertaqwa, maka Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezqi dengan tanpa disangka-sangka" [Ath-Thalaq : 2-3]

Janganlah anda mengatakan : "rezqi telah tertulis dan terbatasi dan aku tidak akan melakukan sebab-sebab untuk mencapainya". Karena pernyataan tersebut adalah suatu kelemahan. Sedangkan yang disebut kepandaian adalah kamu tetap berupaya  mencari rezqi dan sesuatu yang bermanfaat bagimu, baik untuk agamamu maupun untuk duniamu. Nabi bersabda.

"Artinya : Seorang yang pandai adalah orang yang mengoreksi dirinya dan beramal untuk bekal setelah mati, sedangkan orang yang lemah adalah orang hanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan"

Sebagaiamana rezqi telah tertulis dan ditaqdirkan bersama sebab-sebabnya, maka jodoh juga telah tertulis (beserta sebab-sebabnya). Masing-masing dari suami istri telah tertulis untuk menjadi jodoh bagi yang lain. Bagi Allah tidak rahasia lagi segala sesuatu, baik yang ada di bumi maupun di langit.



[Disalin kitab Al-Qadha' wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin', terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]

Apakah Do'a Bisa Merubah Ketentuan


Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin ditanya : "Apakah do'a berpengaruh merubah apa yang telah tertulis untuk manusia sebelum kejadian?"

Jawaban.
Tidak diragukan lagi bahwa do'a berpengaruh dalam merubah apa yang telah tertulis. Akan tetapi perubahan itupun sudah digariskan melalui do'a. Janganlah anda menyangka bila anda berdo'a, berarti meminta sesuatu yang belum tertulis, bahkan do'a anda telah tertulis dan apa yang terjadi karenanya juga tertulis. Oleh karena itu, kita menemukan seseorang yang mendo'akan orang sakit, kemudian sembuh, juga kisah kelompok sahabat yang diutus nabi singgah bertamu kepada suatu kaum. Akan tetapi kaum tersebut tidak mau menjamu mereka. Kemudian Allah mentakdirkan seekor ular menggigit tuan mereka. Lalu mereka mencari orang yang bisa membaca do'a kepadanya (supaya sembuh). Kemudian para sahabat mengajukan persyaratan upah tertentu untuk hal tersebut. Kemudian mereka (kaum) memberikan sepotong kambing. Maka berangkatlah seorang dari sahabat untuk membacakan Al-Fatihah untuknya. Maka hilanglah racun tersebut seperti onta terlepas dari teralinya. Maka bacaan do'a tersebut berpengaruh menyembuhkan orang yang sakit.

Dengan demikian, do'a mempunyai pengaruh, namun tidak merubah Qadar. Akan tetapi kesembuhan tersebut telah tertulis dengan lantaran do'a yang juga telah tertulis. Segala sesuatu terjadi karena Qadar Allah, begitu juga segala sebab mempunyai pengaruh terhadap musabab-nya dengan izin Allah. Maka semua sebab telah tertulis dan semua musabab juga telah tertulis.


[Disalin kitab Al-Qadha' wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin', terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]

Jumat, 08 Februari 2013

MENJAGA KEBAIKAN


         Allah berfirman.
“Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” [Ar-Ra’du : 11]

Dan Allah berfirman.
“Artinya : Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali” [An-Nahl : 92]

Dan Allah berfirman.
“Artinya : Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras” [Al-Hadid : 16]

Dan Allah berfirman.
“Artinya : Lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya” [Al-Hadid : 27]

Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata : Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda : “ Ya Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan, dahulu ia shalat malam lalu ia tidak mengerjakannya lagi” [Muttafaqun Alaihi]

Penjelasan
Berkata Imam Nawawi (semoga Allah merahmati beliau) : “Bab menjaga kebaikan”. Yaitu bahwasanya seseorang jika terbiasa mengerjakan kebaikan maka sepatutnya mengekalkannya (menjaganya). Misalnya jika ia sudah terbiasa tidak meninggalkan hal-hal yang sunnah, yaitu shalat-shalat sunnah yang mengiringi shalat-shalat wajib, maka hendaknya ia menjaga hal itu, Dan jika ia terbiasa melaksanakan shalat malam maka hendaknya ia menjaganya. Dan jika terbiasa shalat dhuha dua rakaat maka hendaknya menjaga hal itu, segala kebaikan yang ia terbiasa mengerjakannya hendaknya ia jaga.

Seorang Ayah Berkewajiban Mendakwahi Anak-Anaknya Dengan Cara Yang Terbaik


Pertanyaan.:
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sebagian orang tua yang patuh beragama sering menghadapi kesulitan disebabkan ketidak patuhan anak-anak mereka secara sempurna terhadap hukum-hukum Islam. Misalnya dalam menjaga shalat dan dasar-dasar Islam lainnya, bahkan melakukan beberapa perbuatan maksiat, seprti menonton film, memakan riba, terkadang tidak menghadiri shalat berjama'ah -kadang-kadang-, mencukur jenggot serta kemungkaran-kemungkaran lainnya. Maka apakah sikap seorang ayah yang muslim dan taat (mustaqim) terhadap anak-anak tersebut ? Dan apakah ia harus bersikap keras terhadap mereka atau bersikap lembut ?

Jawaban.
Menurut pandagan saya hendaknya (seorang ayah) mendakwahi mereka dengan cara yang terbaik sedikit demi sedikit. Apabila mereka terjatuh dalam beberapa maksiat maka hendaknya ia melihat (maksiat) yang paling berat, lalu memulai (dakwah -pen) dengannya dan mengulang-ulangi diskusi dengan mereka hingga Allah سبحانه و تعالى memudahkan urusan ini dan merekapun meninggalkannya. Namun jika mereka tidak mungkin meresponnya maka perbuatan-perbuatan maksiat berbeda-beda, sebagian di antaranya  tidak mungkin membiarkan anak bersama anda sementara ia melakukannya, dan sebagian ada yang dibawahnya. Maka bila seorang menghadapi pertentangan antara dua mafsadah, sementara keduanya pasti harus terjadi atau salah satunya pasti terjadi, maka melakukan yang lebih ringan (mafsadah)nya itulah yang adil dan itulah yang hak.

Akan tetapi problem yang juga terjadi adalah kebalikan dari pertanyaan ini, yaitu bahwa sebagian pemuda menemui kesulitan disebabkan penyimpangan ayahnya, dimana sang pemuda itu adalah seorang yang multazim namun ayahnya justru berbeda dari itu. Maka anda akan menemukan ayahnya selalu menentangnya dalam banyak masalah. Kini nasehat saya kepada para bapak tersebut adalah hendaknya mereka takut kepada Allah سبحانه و تعالى terhadap diri mereka dan anak-anak mereka, hendaknya mereka memandang arah (perilaku) anak-anak mereka dan istiqomahnya itu sebagai suatu nikmat yang patut mereka syukuri kepada Allah baginya, karena keshalihan anak-anak mereka itu akan bermanfaat bagi mereka ketika masih hidup dan ketika telah mati. Sebagaimana Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda.

"Artinya : Apabila seorang insan mati maka terputuslah semua amalannya, kecuali dari tiga hal : sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendo'akannya" [1]

Saya juga mengarahkan pembicaraan kepada para putra dan putri, bahwa ayah ataupun ibu mereka jika memerintahkan kepada kemaksiatan maka tidak ada keataatan dalah hal itu,  tidak wajib taat kepada mereka[2], dan menyelisihi mereka -walaupun mereka marah- tidaklah termasuk kedurhakaan, bahkan itu termasuk berbakti dan berbuat  baik pada keduanya agar dosa dan kejahatan mereka tidak bertambah disebabkan kalian melakukan maksiat yang mereka perintahkan. Maka apabila kalian menolak berbuat maksiat yang mereka perintahkan, maka sebenarnya kalian telah berbakti pada mereka, karena kalian telah menghalangi mereka untuk tidak menambah dosa. Maka kalian jangan menta'ati mereka dalam kemaksiatan selama-lamanya.

Adapun dalam ketaatan yang itu meninggalkannya bukan termasuk maksiat, maka seyogyanya seseorang melihat apakah yang lebih mengandung maslahat. Jika ia melihat yang lebih maslahat adalah menyelisihi mereka, maka hendaknya ia menyelisihi mereka. Akan tetapi hendakanya menyiasatinya jika ketaatan tersebut termasuk yang boleh ditolak dan disembunyikan dari mereka, maka hendaklah ia menolak dan menyembunyikannya dari mereka, maka hendaklah ia menolak dan menyembunyikannya dari mereka. Dan jika (ketaatan) tersebut termasuk (yang mungkin di tolak namun) tidak mungkin disembunyikan maka ia dapat menampakkannya dan berusaha untuk menjelaskan dengan tuntas kepada mereka (para orang tua) bahwa hal itu tidaklah membawa mudharat jika dilakukan, atau dengna ungkapan yang semacamnya yang dapat memuaskan (orang tua).


[Disalin dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, terbitan Darul Haq]
_________
Foote Note
[1] Hadits Riwayat Muslim No. 1631 dalam kitab Al-Wshiyah, bab Maa Yalhaqul Insan Min Ats-Tsawaab Ba'da Wafatihi, dari hadits Abu Hurairah رضي الله عنه
[2] Berdasarkan sabda Nabi صلی الله عليه وسلم : "Tidak ada keta'atan bagi makhluq dalam bermaksiat kepada Khaliq" Dikeluarkan oleh Ahmad (1/131). Al-Arna'uth berkata : "sanadnya lemah, akan tetapi mempunyai syahid dari hadits Al-Hakam bin Amr Al-Ghifari dan Imran bin Hushain رضي الله عنه pada Ahmad (5/66,67) dan Ath-Thayalisi 856 dan sanadnya shahih, dishahihkan oleh Al-Hakam (2/443) dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. Ia juga mempunyai syahid (dari) apa yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. 7145, Muslim no. 1840 dari Ali رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda : "Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan, keta'atan itu hanya  pada yang ma'ruf" Lihat Silsilah Ash-Shahihah oleh Al-Albani (179-181).       

MACAM-MACAM HATI


[Diketik ulang dari: "Tazkiyah An-Nafs, Konsep Penyucian Jiwa Menurut Para Salaf", Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu Rajab al-Hambali, Imam Ghazali. Pentahqiq: Dr. Ahmad Farid. Penerjemah: Imtihan Asy-Syafi'i. Editor: Abu Fatiah Al Adnani . Penerbit: Pustaka Arafah, Solo. Cetakan Pertama: Februari 2001/Dzul Qa'dah 1421 H, hal.22-24]
_________
Foote Note
[1]. Disebutkan dalam sebuah hadits, "Cintamu kepada sesuatu akan membutakanmu dan menulikanmu," Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Al- Adab XIV/38 secara marfu'dan oleh Imam Ahmad dalam Musnad V /194 secara marfu', juga VI/450 secara mauquf. Semuanya dari Abu Darda'. Abu Dawud tidak mengomentari hadits ini. Namun sebagian ulama menghasankannya, dan sebagian yang lain mendlaif-kannya.
[2]. Hasad atau dengki adalah sikap tidak suka melihat orang lain mendapat nikmat dan mengharapkan nikmat itu lenyap darinya.
[3]. Kibr atau sombong adalah menganggap remeh orang lain. Rasulullah bersabda, Kibr itu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain." HR. Muslim II/89       

Nasehat Dalam Menghadapi Musibah ; Gemba Bumi Dan Bencana Alam


         Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui terhadap semua yang dilaksanakan dan ditetapkan. Sebagaimana juga Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui terhadap semua syari’at dan semua yang diperintahkan. Allah menciptakan tanda-tanda apa saja yang dikehendakiNya, dan menetapkannya untuk menakut-nakuti hambaNya. Mengingatkan terhadap kewajiban mereka, yang merupakan hak Allah Azza wa Jalla. Mengingatkan mereka dari perbuatan syirik dan melanggar perintah serta melakukan yang dilarang.

Sebagaimana firman Allah.

Implikasi Risywah (Budaya Suap) di Tengah Masyarakat


Pertanyaan:
Bagaimana jadinya kondisi suatu masyarakat ketika budaya suap menyebar di tengah mereka?
 
Jawaban:
Tidak dapat disangkal lagi bahwa munculnya berbagai per-buatan maksiat akan menyebabkan keretakan dalam hubungan masyarakat, terputusnya tali kasih sayang di antara individu-indi-vidunya dan timbulnya kebencian, permusuhan serta tidak saling menolong dalam berbuat kebajikan. Di antara implikasi paling buruk dari merajalelanya budaya suap dan perbuatan-perbuatan maksiat lainnya di dalam lingkungan masyarakat adalah muncul dan tersebarnya perilaku-perilaku nista, lenyapnya perilaku-perilaku utama (akhlaq yang baik) dan sebagian anggota masya-rakat suka menganiaya sebagian yang lainnya. Hal ini sebagai akibat dari pelecehan terhadap hak-hak melalui perbuatan suap, mencuri, khianat, kecurangan di dalam mu'amalat, kesaksian palsu dan jenis-jenis kezhaliman dan perbuatan melampaui batas semisalnya.
 Semua jenis-jenis ini adalah tindakan kejahatan yang paling buruk. Ia termasuk salah satu dari sebab-sebab mendapatkan kemurkaan dari Allah, timbulnya kebencian dan permusuhan antara sesama Muslim dan sebab-sebab terjadinya adzab menyeluruh lainnya. Hal ini sebagaimana sabda Nabiصلی الله عليه وسلم :


إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا اْلمُنْكَرَ فَلَمْ يُنْكِرُوْهُ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابِهِ
 "Sesungguhnya bila manusia telah melihat kemungkaran lantas tidak mengingkarinya maka telah dekatlah Allah meratakan adzab-Nya terhadap mereka".[1]

Sumber:
Kitab ad-Da'wah dari fatwa Syaikh Ibn Baz.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, penerbit Darul Haq.
[1] HR. Imam Ahmad (1,17,30,54) dengan sanad shahih dari Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه dan Abu Daud, kitab Al-Malahim (4338); At-Tirmidzy, kitab At-Tafsir (3057), dan Ibn Majah, kitab Al-Fitan (4005) semisalnya. 

MELAKNAT ISTRI


Pertanyaan. :

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum laknat suami terhadap isterinya dengan sengaja ? Apakah  isterinya menjadi haram baginya karena laknat tersebut ? Atau bahkan termasuk katagori talak ? Lalu apa kaffarahnya (terbusannya)?

Jawaban :
Laknat seorang suami terhadap isterinya adalah perbuatan mungkar, tidak boleh dilakukan, bahkan termasuk dosa besar, sebagaimana sabda Nabi صلی الله عليه وسلم.

“Artinya : Melaknat seorang mukmin adalah seperti membunuhnya” [1]

Dalam hadits lain disebutkan.

“Artinya : Mencela seorang muslim adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran” [2]

Dalam hadits lainnya lagi disebutkan.

“Artinya : Orang-orang yang suka melaknat itu tidak akan menjadi pemberi syafa’at dan tidak pula menjadi saksi pada hari kiamat” [3]

Maka yang wajib atasnya adalah bertaubat dari perbuatannya itu dan membebaskan isterinya dari celaan yang telah dilontarkan terhadapnya. Barangsiapa yang bertaubat dengan sungguh-sungguh, niscaya Allah menerima taubatnya. Sementara isterinya, tetap dalam tanggung jawabnya, ia tidak menjadi haram baginya lantaran laknat tersebut. Lain dari itu, yang wajib atasnya adalah memperlakukannya dengan baik dan senantiasa menjaga lisannya dari setiap perkataan yang dapat menimbulkan kemurkaan Allah سبحانه و تعالى. Demikian juga sang isteri, hendaknya memperlakukan suami dengan baik dan menjaga lisannya dari apa-apa yang dapat menimbulkan kemurkaan Allah dan kemarahan suaminya, kecuali berdasarkan kebenaran. Allah سبحانه و تعالى berfirman.

“Artinya : Dan bergaullah dengan mereka secara patut” [An-Nisa : 19]

Dalam ayat lain disebutkan.

“Artinya : Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya” [Al-Baqqarah :228]

Hanya Allah-lah pemberi petunjuk.

[Fatawa Hai’ati Kibatil Ulama, juz 2hal. 687-688]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masail Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Albalad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid  Al-Juraisiy, Penerjemah  Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]
__________
Foote Note.
[1].  Muttafaq Alaih, Al-Bukhari kitab Al-Adab (6105) dan Muslim, kitab Al-Iman (110).
[2]. HR Al-Bukhari, kitab Al-Iman (48) dan Muslim, kitab Al-Iman (64)
[3]. HR Muslim, kitab Al-Birr (2598]       

FENOMENA PARA SUPIR DAN PEMBANTU RUMAH TANGGA


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada nabi dan rasul termulia, nabi, imam, pemimpin dan teladan kita, Muhammad, juga semoga senantiasa dilimpahkan kepada keluarga dan para sahabatnya serta mereka yang meniti jalannya hingga hari berbangkit. Amma ba'du.

Banyak orang yang menyampaikan keluhan kepada saya tentang fenomena banyaknya para supir dan pembantu rumah tangga, tidak sedikit orang yang mempekerjakan mereka padahal tidak begitu memerlukan atau bukan karena kebutuhan mendesak, bahkan sebagian supir dan pembantu rumah tangga ada yang non muslim sehingga mengakibatkan kerusakan besar pada aqidah, moral dan ketentraman kaum muslimin, kecuali yang dikehendaki Allah. Sebagian orang menginginkan agar saya menuliskan nasehat untuk kaum muslimin yang mencakup peringatan untuk mereka tentang sikap longgar dan menyepelekan dalam masalah ini. Untuk itu, dengan memohon pertolongan Allah, saya katakan:

Tidak diragukan lagi, bahwa banyaknya pembantu rumah tangga, supir dan pekerja di tengah-tengah kaum muslimin, di rumah-rumah mereka, di antara keluarga dan anak-anak mereka, mempunyai nilai-nilai yang berbahaya dan dampak-dampak mengerikan yang tidak luput dari pandangan orang yang berakal. Saya sendiri tidak dapat menghitung dengan pasti, berapa banyak di antara mereka orang yang dikeluhkan, berapa banyak dari mereka yang menyimpang dari norma-norma dan etika-etika negeri ini dan berapa banyak orang yang menganggap enteng dalam mendatangkan dan menetapkan mereka untuk berbagai pekerjaan. Yang paling berbahaya di antaranya adalah bersepi-sepian dengan wanita yang bukan mahram, bepergian dengan wanita yang bukan mahram ke tempat-tempat yang jauh atau yang dekat, masuk ke dalam rumah dan berbaurnya mereka dengan kaum wanita. Demikian kondisi sebagian supir dan para pembantu laki-laki.

Sementara para pembantu wanita, tidak kalah berbahayanya terhadap kaum pria, karena bercampur baurnya mereka dengan kaum pria, tidak konsekuen dengan hijab dan bersepi-sepi dengan kaum pria yang bukan mahram di dalam rumah. Boleh jadi pembantu itu masih muda lagi cantik, bahkan mungkin tidak memelihara kehormatan diri karena kebiasaan di negara asalnya yang serba bebas, terbiasa tidak menutup wajah dan masuk ke tempat nista dan vulgar, di samping terbiasa dengan gambar-gambar porno dan nonton film-film tak bermoral. Lain dari itu, ditambah lagi dengan pikiran mereka yang menyimpang dan sekte-sekte sesat serta model-model pakaian yang bertentangan dengan norma-norma Islam.

Sebagaimana diketahui, bahwa jazirah ini tidak boleh dihuni kecuali oleh kaum muslimin, karena Rasulullah صلی الله عليه وسلم telah berpesan untuk mengeluarkan kaum kuffar dari jazirah ini. Intinya, di jazirah Arab tidak boleh ada dua agama, karena jazirah ini merupakan cikal bakal dan sumber Islam serta tempat turunnya wahyu. Maka kaum musyrikin tidak boleh tinggal di jazirah Arab, kecuali dalam waktu terbatas karena suatu keperluan yang disetujui oleh penguasa, seperti ; para duta, yang mana mereka para utusan yang datang dari negara-negara kuffar untuk melaksanakan tugas, para pedagang produk-produk makanan dan sebagainya yang didatangkan/di import ke negara-negara kaum muslimin untuk memenuhi kebutuhan mereka. Untuk hal itu mereka dibolehkan tinggal beberapa hari kemudian kembali ke negara asal mereka dengan tetap mematuhi peraturan-peraturan pemerintah setempat.

Keberadaan non muslim di negara-negara Islam merupakan bahaya besar terhadap aqidah, moral dan kehormatan mereka. Bahkan hal ini bisa menyebabkan timbulnya loyalitas terhadap mereka, mencintai mereka dan berpakaian seperti mereka. Dari itu, barangsiapa yang terpaksa membutuhkan pembantu atau supir, hendaklah memilih yang lebih baik, dan tentunya yang lebih baik adalah dari kaum muslimin, bukan dari kaum kuffar.

Kemudian dari itu, hendaknya berusaha memilih yang lebih dekat kepada kebaikan dan jauh dari penampilan-penampilan yang menunjukkan kefasikan dan kerusakan, karena di antara kaum muslimin ada yang mengaku memeluk Islam tapi tidak konsekuen dengan hukum-hukumnya sehingga bisa menimbulkan bahaya dan kerusakan yang besar.

Kita memohon kepada Allah, semoga Allah memperbaiki kondisi kaum muslimin, memelihara moral dan agama mereka, mencukupkan mereka dengan apa yang telah dihalalkan bagi mereka sehingga tidak memerlukan apa yang diharamkan atas mereka. Dan semoga Allah menunjuki para penguasa untuk segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi kaum muslimin dan negara, serta menjauhkan segala faktor keburukan dan kerusakan. Sesungguhnya Dia Mahabaik lagi Mahamulia Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

[Ketua Umum Lembaga Penelitian Ilmiah, Fatwa, Dakwah dan Bimbingan]

[Majalah Ad-Da'wah, nomor 1037, 24/8/1408H]

[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 507-509 Darul Haq]

CURANG DALAM UJIAN (Menyontek)


Pertanyaan:
Apakah hukum berbuat curang (menyontek) ketika ujian? Saya lihat, banyak mahasiswa yang melakukan kecurangan lalu saya menasehati mereka, tapi malah mengatakan, "Ini tidak apa-apa."

Jawaban:
Curang dalam ujian, ibadah atau muamalah hukumnya haram, berdasarkan sabda nabi صلی الله عليه وسلم,

Barangsiapa mencurangi kami maka bukan dari golongan kami." (HR. Muslim, kitab al-Imam.

Disamping itu, hal tersebut dapat menimbulkan banyak mudharat baik di dunia maupun di akhirat. Maka seharusnya menghindari perbuatan tersebut dan saling mengingatkan untuk meninggalkannya.

Pertanyaan ke-2:
Apakah Hadits, "Barangsiapa Yang Mencurangi Kami Maka Bukan Dari Golongan Kami," Mencakup Perkara Ujian?

Pertanyaan:
Saya seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di kota Riyadh, saya perhatikan sebagian mahasiswa melakukan kecurangan dalam ujian, terutama pada sebagiah materi yang di antaranya materi bahasa inggris, ketika saya berdialong dengan mereka mengenai hal ini, mereka mengatakan, "Berbuat curang dalam mata pelajaran bahasa inggris tidak haram, sebagian Syaikh telah memfatwakan demikian." Saya mohon penjelasan tentang masalah ini dan fatwa tersebut.

Jawaban:

Telah disebutkan dalam sebuah hadits dari Rasulullah
صلی الله عليه وسلم bahwa beliau bersabda,

Barangsiapa yang mencurangi kami maka bukan dari golongan kami." (HR. Muslim, kitab al-Imam)

Ini mencakup semua bentuk kecurangan dalam muamalah dan ujian, mencakup pula materi bahasa inggris dan lainnya. Maka para mahasiswa dan mahasiswi tidak boleh berbuat curang dalam semua materi karena keumuman hadits tersebut. Hanya Allah lah sumber petunjuk.

Rujukan:
Al-Fatwa, Kitab Ad-Da'wah, hal 157, 158 Syaikh Ibnu Baz.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, hal. 573

HUKUM SYARIAT (AGAMA) TERHADAP SUAP


Pertanyaan:
Apa hukum syari'at terhadap risywah (suap)?
 
Jawaban:
Risywah(suap) haram hukumnya berdasarkan nash (teks syari'at) dan ijma' (kesepakatan para ulama). Ia adalah sesuatu yang diberikan kepada seorang Hakim dan selainnya untuk melencengkannya dari al-Haq dan memberikan putusan yang berpihak kepada pemberinya sesuai dengan keinginan nafsunya.
Dalam hal ini, terdapat hadits yang shahih dari Nabiصلی الله عليه وسلم bahwasanya beliau: "Melaknat penyuap dan orang yang disuap." [1]
Terdapat riwayat yang lain, bahwa beliau melaknat ar-Ra'isy juga.[2]   Yakni, perantara antara keduanya. Dan, tidak dapat diragukan lagibahwa dia berdosa dan berhak mendapatkan cacian, celaan dan siksaan karena membantu di dalam melakukan perbuatan dosa dan melampaui batas, padahal Allah سبحانه و تعالى berfirman:
 
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya." (Al-Ma'idah:2).
 
Sumber:
Kitab ad-Da'wah, Juz.I, Hal.156 dari fatwa Syaikh Ibn Baz.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, penerbit Darul Haq.
[1] HR. Abu Dawud, kitab Al-Aqdliyah (3580); At-Tirmidzi, kitab Al-Ahkam (1337) dan Ibn Majah, kitab Al-Ahkam (2313)
[2] HR. Ahmad (21893); Al-Bazzar (1353); Ath-Thabarani di dalam Al-Mu'jam Al-Kabîr (1415). Al-Haitsamiy berkata di dalam Majma'Az-Zawa`id (IV:199), "Di dalam riwayat tersebut terdapat Abul Haththab, seorang yang tidak diketahui identitasnya (anonim)."       

MENGATASI KEMARAHAN

Pertanyaan: 

Saya orang yang cepat marah. Saya telah berusaha menguasai diri saat marah, tapi seringkali saya marah tak terkendali. Saya mohon Syaikh berkenan memberi terapinya. 

 jawaban:

Hendaknya anda banyak-banyak memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk dan berwudhu seperti wudhu untuk shalat saat anda menghadapi kemarahan, karena Rasulullah صلی الله عليه وسلم menunjukkan dua hal ini kepada seseorang yang sedang memuncak kemarahannya. Di samping itu, hendaknya menghindari faktor-faktor penyebab kemarahan semampunya. Allah سبحانه و تعالى telah berfirman, ‏ "Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (Ath-Thalaq: 4).

Rujukan: Fatawa Islamiyah, Syaikh Ibnu Baz, 4/497.

Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, penerbit Darul Haq.

Rabu, 06 Februari 2013

SYAIKH WAHID ABDUSS SALAM BALI Berkata :


Dari Syaikh Wahid Abdus Salam Bali ;

Di eropa orang islam berwudhu dengan meletakkan kaki di wastafel. Seorang yahudi menegurnya ; Anda orang islam itu orang-orang yang kotor, bagaimana anda menaruh kaki kotr anda di tempat yang bersih, tempat kami mencuci wajah & tangan kami ???

Muslim ; Berapa kali anda membasuh wajah anda dalam sehari ?

Yahudi ; Sekali di pagi hari, ketika saya butuh saya mencucinya dua kali

Muslim ; Kami orang islam mencuci kaki kami minimal lima kali sehari, jadi mana yang lebih bersih kaki kami atau wajah kalian ???

Demi Allah kaki-kaki kami lebih bersih dari pada wajah-wajah orang yahudi, musyrikin serta orang kafir seluruhnya.
Dari Syaikh Wahid Abdus Salam Bali ;

Di eropa orang islam berwudhu dengan meletakkan kaki di wastafel. Seorang yahudi menegurnya ; Anda orang islam itu orang-orang yang kotor, bagaimana anda menaruh kaki kotr anda di tempat yang bersih, tempat kami mencuci wajah & tangan kami ???

Muslim ; Berapa kali anda membasuh wajah anda dalam sehari ?

Yahudi ; Sekali di pagi hari, ketika saya butuh saya mencucinya dua kali

Muslim ; Kami orang islam mencuci kaki kami minimal lima kali sehari, jadi mana yang lebih bersih kaki kami atau wajah kalian ???

Demi Allah kaki-kaki kami lebih bersih dari pada wajah-wajah orang yahudi, musyrikin serta orang kafir seluruhnya.

Sumber : salafiyunpadwodpres.com

Sekelumit Kisah Kecekalan Syeikh Al-Albani


Perpustakaan Az-Zahiriyah dimana Syeikh Al-Albani banyak menghabiskan waktunya untuk menelaah kitab, terkadang di meja khususnya di antara pengunjung dan terkadang membaca buku di tangga-tangga perpustakaan. Dan menurut anak beliau, Abdul Latif, beliau sering lupa makan dihari itu.
Dalam sebuah kaset ceramah milik Syeikh Abu Ishaq Al-Huwainy yang berjudul “Ainal Ulama Ar-Rabbaniyun?”, beliau menceritakan tentang ujian yang pernah menimpa guru beliau Syeikh Al-Albani rahimahullah. Inilah cerita beliau:
Para ulama Rabbani dalam mengubah masyarakat itu sungguh berat, kerana mereka memiliki dua tanggungjawab besar, yakni :


·         Membersihkan khurafat yang tertanam di jiwa-jiwa manusia dan
·         Menancapkan Islam yang sahih pada jiwa mereka.
Dan tatkala para alim Rabbani memikul tanggungjawab yang berat sekali itu, merekapun juga diuji oleh berbagai tuduhan yang disebabkan dari pemelintiran ucapan mereka serta penyebaran berbagai berita dusta. Hampir-hampir tidak selamat seorangpun dari alim Rabbani dari hal seperti ini sebagaimana dicatat dalam sejarah.
Cukup sebagai contoh adalah Syeikh Nasiruddin Al-Albani, seorang ulama hadis abad inirahimahullah taala.
Syeikh Al-Albani adalah orang yang sangat banyak sekali dinisbatkan kedustaan padanya, padahal tidak pernah beliau katakan. Kerana sebab kedustaan-kedustaan itulah beliau pernah dicekal di sejumlah negara. Maka tidaklah engkau lihat beliau memiliki suatu negeri ataupun tempat tinggal. Hidup beliau diakhir masa hidupnya sengsara sekali. Seorang alim semisal beliau terpaksa mengungsi. Kerana beliau berpendapat haramnya safar ke negeri kafir, maka beliau tidak pergi ke Amerika atau Perancis atau yang lainnya. Dan kalau tidak berpendapat demikian, mungkin beliau akan mendapatkan kebebasan besar di negara-negara tersebut.
Selama 6 bulan terkatung-katung nasibnya di perbatasan UEA! Beliau dilarang masuk ke sana! Juga dilarang memasuki Kuwait! Dan juga memasuki Saudi! Dilarang memasuki Suriyah. Lantas bagaimana beliau akan tinggal?
Dan tidaklah beliau bisa tinggal di Jordan saat itu kecuali dengan tazkiyah(rekomendasi) khusus dari salah seorang murid beliau, yakni Syeikh Muhammad bin Ibrahim Syaqrah, wakil kementrian waqaf sekaligus Imam Masjid Dar Ash Shofwah.
Syeikh Ibrahim Syaqrah ini kemudian menemui Raja Husain secara peribadi memintanya membolehkan Syeikh Nasiruddin Al-Albani tinggal di Jordan. Itupun dengan kesepakatan agar beliau tidak ditemui seorangpun saat itu. Dan juga mereka kemudian memaksa menulis di pintu rumah (vila) Syeikh Al-Albani dengan tulisan “Dilarang didatangi lebih dari dua orang!”. Jika ingin berjumpa harus melalui perjanjian melalui telefon.
Dan dihari-hari pertama mereka sangat mempersempit sekali kepada Syaikh Albani,akan tetapi dihari-hari belakangan mereka melupakannya hingga tidak ketat lagi dengan aturan-aturan ini.
Tatkala aku menemui Syeikh Al-Albani di Amman, beliau mengundang sejumlah relasi untuk makan dan kebetulan aku disana. Kami saat itu berjumlah 25 orang dan kukatakan pada syeikh: "Wahai Syaikh, bukankah ada semacam banner peringatan bahawa dilarang masuk lebih dari dua orang?” Syeikh Al-Albani berkata dengan cepat: "Mereka masuk dua orang dua orang saja!"
Beliau yang alim ini tidak mendapatkan baginya tempat yang nyaman. Sebelumnya mereka pun melarang durus beliau di Masjib Umar di Zurqa, hingga beliau tidak memiliki tempat untuk memberi pelajaran kepada talabul ilmi kecuali dirumah salah seorang mereka setelah solat isyak.
Saat diselenggarakan Muktamar Assunnah dan Sirah Nabawiyah di Mesir, mereka tidak mengundang Syeikh Al-Albani, padahal beliaulah orang paling besar saat itu jasanya kepada kaum muslimin di abad ini bagi sunnah dan sirah nabawiyah. Dan mereka tidak mengundang Syeikh Al-Albani misalnya dengan mengatakan: "Kemarilah akan kami muliakan engkau”, tidak ada salah satu anggota pertemuan itu yang berbicara demikian.

Adalah semisal mereka para ulama Rabbani ini, lihatlah muamalah kepada mereka! Bagaimana mungkin kaum muslimin bisa mendapatkan manfaat dengan ilmu mereka sedang mereka diusir diberbagai negeri!?. Bahkan yang lebih aneh lagi, sejumlah kitab-kitab ulama diberbagai perpustakaan dilarang, buku Tahzir As-Sajid, buku Hurmatut Tashwir karya Syeikh Al-Albani dan Syeikh bin Baz dan sejumlah ulama, Tahqiq Syarh At-Thahawiyah, mengapa wahai saudara-saudara kami? Mereka mengatakan bahawa ini kitab terlarang, Al-Azhar telah memutuskan bahawa kitab-kitab tersebut terlarang! Bagaimana bisa terlarang? Apakah kerana karya dan peneliian dari Al-Albani? Beginikah bermuamalah dengan ulama-ulama Rabbani?

Syeikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di yang tidak kenal leleah


Syeikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di berasal dari bani Tamim. Beliau dilahirkan di Unaizah pada 12 Muharram 1307H (1886M). Ibunya meninggal ketika beliau berumur 4 tahun yang disusuli ayahnya tiga tahun kemudian.
Syeikh As-Sa’di telah menghafal Al-Qur’an dan menguasai cara pembacaannya sebelum usianya mencapai 11 tahun. Beliau kemudian dengan penuh kesabaran melakukan pencarian terhadap ilmu-ilmu syariat dengan cara belajar kepada beberapa ulama yang ada di kotanya mahupun ulama yang beliau kunjungi.
Di antara guru beliau adalah Syeikh Ibrahim bin Muhammmad bin Hasir, Syeikh Muhammad bin Abdul Karim Asy-Syabil, Syeikh Shalih bin Utsaimin (Qadhi Unaizah), Syeikh Muhammad Asy-Syinqithi dan yang lainya. Siapapun yang mengaku gurunya adalah Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dan ia berbicara di atas kebenaran, maka Syeikh As-Sa’dy akan menjadi seorang pelajar yang bersemangat sekali mengkaji karya-karyanya.
Sifat dan Pribadinya
Beliau perawakannya pendek, gemuk, putih kemerah-merahan, wajahnya bulat, lebat janggutnya dan berwajah tampan.
Beliau dikenal dengan kemuliaan akhlaknya, selalu tawadhu' kepada sesiapa saja, bersikap zuhud terhadap dunia, selalu menjaga kemuliaan dirinya meskipun sedikit harta yang dimilikinya. Beliau juga selalu mengucap salam kepada anak-anak dan orang-orang tua, selalu menjawab undangan, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi kebutuhan siapa saja yang meminta kepadanya.
Beliau diberi keistimewaan oleh Allah dapat menyelesaikan perkara-perkara pelik dengan mudah dan menyelesaikan perselisihan-perselisihan dengan cerdik dan bijaksana.
Karakter yang paling menonjol dari Syeikh As-Sa’di adalah kemuliaan akhlaknya. Beliau memiliki sikap yang sangat ramah terhadap siapa saja baik masih muda maupun yang lebih tua. Bila beliau berbicara dengan seseorang maka akan disesuaikan dengan kamampuan pemahamannya dan disesuaikan apa yang paling bermanfaat baginya. Syeikh As-Sa’di tidak merasa tertarik dan bahkan menjauhi gemerlapnya kehidupan dunia. Beliau tidak pernah memperhatikan kedudukan, kekuasan maupun kemewahan

Karya-Karyanya
Syeikh As-Sa'di memiliki perhatian yang besar dalam menulis, memudahkan penyebaran ilmu kepada para penuntut ilmu dan orang-orang awam. Barangsiapa menelaah kitab-kitabnya akan takjub dengan ibaratnya yang mudah dan keluasan maknanya. Beliau tidak pernah menyibukkan diri pada ilmu yang tidak bermanfaat.
Di antara karya-karya beliau ialah Tafsir Al-Qur’an (8 jilid), Hasyiah Fiqhiyah, Diwan Khutab, Al-Qawa’idul Hishan, Tanzih Ad-Din, Rad ‘Ala Al-Qashimi, Al-Haq Al-Wadih Al-Mubayyin, Bahjatu Qulub Al-Abrar, Ar-Riyadh An-Nadhirah dan lain-lain.

Wafatnya

Beliau hidup dalam keadaan merasa cukup atas nikmat Allah dan dalam kesederhanaan sampai beliau diwafatkan Allah menjelang fajar hari Khamis pada 23 Jamadilakhir 1376H (1955M) dan dimakamkan di Unaizah dengan dihadiri oleh ratusan manusia yang tidak terhitung banyaknya.
Semoga Allah meredhai dan menempatkan beliau dalam keluasan jannahNya